Jumat, 30 November 2018

"Maaf. Aku Pamit"


Apabila nanti aku berhenti, bukan siapa yang menghentikan aku untuk selalu menantimu. Tapi waktu  yang akan menghentikan aku untuk tetap menantimu. Apabila ada sesuatu yang mungkin menyakitkan, harapan yang kamu nantikan, dan beribu ungkapan yang selalu kamu dambakan. Mengertilah, semua upaya tidak lain hanya untuk menjagamu. Bukankah menyayangi adalah menjaga bukan menghancurkan?

Sampai detik ini mungkin kamu tidak menyadari, bahkan caraku mencintaimu selalu salah di mata banyak orang. Tapi, mengertilah aku mempersiapkan hal indah di balik caraku yang sadis. Setiap detik waktu yang aku lalui bersamamu terbingkai rapi dalam lembaran kisahku. Semua rasa tersimpan di sana. Jika nanti memang aku yang harus berhenti terlebih dahulu, maka antar aku kembali ke persinggahan terakhirku dan jangan buru-buru meninggalkan rumahku. Tapi, temui orang tua dan keluargaku kemudian ambillah bingkisan kisah indah yang telah aku tuliskan untukmu.

Kamu harus tahu bahwa aku bisa membingkai kisah seindah yang kamu baca nanti semua karenamu. Karena kamu adalah tema terindah yang aku pilih. Karena kamu adalah alasanku untuk menulis dan mengabadikan kenangan; tawa, bahagia, pun luka dan sesekali tangis karenamu. Bukalah setiap lembarnya, maka kamu akan mengerti bagaimana sakitnya dan tidak mudahnya menahan kata, rasa, perhatian, bahkan menahan untuk tidak bertemu denganmu sekalipun rindu itu menggebu dan selalu menjadi candu.

Ingin sekali rasanya menikmati kisah yang telah kita lalui berdua. Lika-liku perjuangan kita berada di dalamnya. Aku ingin melihatmu tersenyum bahagia kemudian memelukku ketika mengetahui bagaimana usahaku untuk menjaga rasa cinta, sayang dan rindu agar tetap terjaga dan syahdu ditemani suguhan kopi hangat di beranda rumah sederhana kita. Kamu menikmati tulisanku dan giliran aku menikmati senyum bahagia bahkan haru ketika melihat usaha yang telah aku upayakan begitu besar untukmu. Namun sayang, waktu telah menghentikanku. Kisahku hanya sampai di sini. Allah lebih dulu menjemputku. Semua bayangan indah yang aku harapkan harus terhenti.

Dulu, seringkali kamu salah paham akan caraku. Aku yang tidak pernah membalas semua perhatian dan kebaikan yang kamu berikan. Tidak jarang kamu marah karena aku tidak peduli dengan kata sayang, dan rindu. Apakah mudah untuk menahan semua itu? Di dalamnya selalu ada tangis bahkan sesak di dada. Semua aku upayakan demi keutuhan rasa yang akan kita nikmati berdua setelah ikrar suci itu ada.

Nikmati setiap lembarnya. Jangan menangis, semua terjadi karena kehendak-Nya. Jangan menyesali kepergianku. Karena aku pergi bukan karena orang lain tapi aku pergi karena waktuku di dunia telah usai. Relakan kepergianku, jangan lupa doakan aku agar kita bisa bersua di surganya. Karena pertemuan kita dan waktu yang membuat kebersamaan kita berakhir, maka tiada dendam mendalam yang tertinggal. Kita tidak bisa bersama di dunia namun kita telah abadi di lembaran aksara, yakinlah kita pasti akan bersua kembali di surga-Nya.

Kalimat indah yang selalu membuatku kuat menahan godaan hati yang silih berganti adalahJagalah Apa Yang Harus Dijaga Karena Yang Menjaga Hanya Untuk Yang Terjaga. Begitu banyak hati datang silih berganti yang katanya ingin memilki, namun kalimat itulah yang menguatkan aku. Karena, ketika aku di sini menjaga, pasti di sana kamu pun sama halnya denganku. Kamu menjaga dan tidak akan mendua. Percayalah, upayaku hanya untukmu. Penjagaanku karenamu: seorang.

Aku ucapkan elamat tinggal kepadamu. Tetaplah menjaga apa yang harus dijaga karena di sana akan ada seseorang yang menjaga segala sesuatunya untukmu. Aku pergi bukan karena membenci. Aku berhenti menantimu bukan karena orang lain, tapi karena waktu yang memintaku kembali kepangkuan-Nya.

Selamat tinggal. Nikmailah setiap lembarnya meski tanpa aku di sampingmu. Namun kisahku ada karena pertemuan kita: berdua.

Selasa, 11 September 2018

Menulis Asyik Dan Menyenangkan

Setujukah kita, jika menulis itu asyik dan menyenangkan? Coba deh bayangkan, menulis itu pekerjaan yang mudah, bagaimana tidak? Setiap orang mampu melakukannya. Terkadang kita tidak menyadari bahwa sejak di taman kanak-kanak kita sudah diajarkan untuk menulis. Tapi, masih banyak orang yang berpendapat bahwa menulis itu susah dan hanya diperuntukkan untuk mereka yang memiliki kepandaian dalam tata bahasa, keindahan diksi, dan masih banyak lagi alasan-alasan yang menghalangi mimpi kita untuk menjadi seorang penulis. Padahal di zaman digital seperti sekarang ini, banyak yang suka menulis, yang biasa kita sebut curhat di media sosialnya. Nah, sudah sadar bisa menulis, kan?
L
alu, mengapa tidak kita manfaatkan kesempatan itu agar kemampuan kita semakin terasah dan berkembang? Terkadang kita hanya fokus pada kalimat dalam Al-Quran yaitu “iqro’” bacalah, seharusnya kita fokus juga pada kalimat “uktub” atau tulislah. Ada pepatah yang mengatakan, ”Membaca adalah membuka jendela dunia” maka, “Menulis adalah membuat jendela dunia” logikanya seperti itu. Masih males-malesan untuk menulis? Inilah 3 langkah jitu supaya semangat menulis :
1.      Menulis berarti menebar benih kebaikan.
Sebagian dari kita, tidak menyadari bahwa menulis merupakan salah satu langkah kita untuk beramal. Beramal tidak hanya dengan harta yaa, melalui tulisan kita juga bisa beramal, maka tulislah tulisan yang bermanfaat bagi pembaca. Terkadang kita menyelipkan kalimat “Self reminder” untuk diri kita sendiri, secara tidak langsung ada orang lain yang bergerak hatinya untuk berubah, maka bertambah pula kebaikan kita di sisi Allah dan di situlah kebaikan kita akan mengalir. Maka, Jadikan tulisan sebagai ladang dakwahmu.
2.      Menulis berarti melepas resah dan gelisah.
Seorang penulis itu jarang stress karena menuangkan semuanya dalam tulisan. Percaya atau tidak, yang penting cobalah. Setiap hari bahkan setiap jam permasalah selalu saja menghampiri yang membuat kita resah dan semakin gelisah. “Pengennya sih cerita ke temen, tapi takutnya nanti malah bikin masalah semakin menggunung” pernahkan, takut cerita ke orang lain? Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Cobalah tuangkan semua permasalahan dalam tulisan, curahkan semua yang ada, kali aja bisa dijadiin buku, eh. Hehe. Intinya, jadikan pena dan kertas sebagai tempat melepas lelah dan gelisah dan sebagai media untuk mengasah kemapuan kita dalam menulis. “If you wait  for inspiration to write you are not writer, you are waiter”.
3.      Menulis berarti menyentuh dunia.
Pernah mendengar kalimat singkat namun sangat terkesan dari salah satu penulis best seller yang sudah tidak asing lagi di telinga kita yaitu Ahmad Fuadi ”Satu peluru mampu menembus 1 kepala, namun satu tulisan mampu menembus banyak kepala”. Dengan tulisan kita menyentuh dunia, jika kita menulis karya fiksi maka kita mengikat hati dan perasaan orang lain, terkadang ada rasa dan rindu yang tak sempat terucap namun dengan menulis semua akan tercurahkan.
 Jika kita menulis karya non fiksi, maka kita akan mengikat pemikiran pembaca untuk berpikir satu langkah lebih baik. “Penulis tidak akan lenyap dari dunia, tapi dunia akan lenyap dengan penulis”.
Jadilah perintis perubahan dengan menulis. Keep writing

Senin, 19 Juni 2017

Bunga Peradaban

Karya : Fitria Nur Aini

Kau begitu cantik rupawan
Setiap insan berlomba-lomba mendapatkan
Selalu terjaga dengan mahkota dedurian
Harum semerbak menebar ketentraman
Warna nan elok mempercantik pemandangan
Menebar parfum wewangian
Hadirmu berikan pelangi kehidupan
Melengkapi keindahan seluruh alam
Tetaplah mekar dengan kedamaian
Membangun peradaban dalam kesucian
Kau adalah anugrah Tuhan yang Maha Kuasa
Semoga kau tetap terjaga
Dengan semua keindahan yang ada
Dirimu tiada duanya
Maka pertahankan segala keistimewaan yang melekat pada jiwa dan raga

Ponorogo, 17 Juni 2017

Senin, 12 Juni 2017

Pergilah Gapai Mimpimu

Karya : Fitria Nur Aini


Pergilah jika itu yang terbaik
Gapai mimpimu dan jangan menyerah
Jangan membuatnya kecewa dengan keluhmu
Jangan biarkan air mata itu menetes karna kekalahanmu
Buatlah mereka menangis karna keberhasilan yang kau genggam
Do'anya hanya untuk mu 
Anak semata wayang penumpu harapan
Pergilah..!!! 
Tinggalkan semuanya karna Allah
Namun, jangan sedetikpun kau melupakan mereka
Mereka yang selalu ada untukmu
Pendobrak semangat
Mencintaimu tanpa khianat
Dia lah orang tua, sahabat sejati dan teman hidup
Berikan yang terbaik untuknya
Aku disini hanya mampu berikan do'a terbaik untukmu
Jangan lupakan aku, 
Yang pernah berada di sampingmu kala masalah menghampirimu
Jika mata tak saling menatap
Dan lisan tak sempat terucap
Karna jarak yang memaksa kita berpisah
Serta masa yang menghentikan kebersamaan kita
Percayalah sejauh apapun jarak memisahkan kita 
Tak kan ada benteng pemisah antara keduanya
Bersama sujud panjangku ku kirimkan rindu ini untukmu 
Wahai sahabatku
Pergilah dan kembalilah dengan mimpi yang telah berada di genggamanmu
.
Ponorogo,12 Juni 2017

Kamis, 18 Mei 2017

Istiqomah Tujuan Hakiki

Karya : Fitria Nur Aini

Wahai ukhti, tugasmu kini 
Menjaga hati
Bersabar dan berserah diri
Menanti dengan ketetapan pasti
Memantaskan diri dihadapan Ilahi Rabbi

Berdo'a dan berusaha
Menjadi hamba-Nya yang mulia
Mendapat syafa'at dari-Nya adalah tujuan utama
Jangan putus asa
Dia Maha Agung Allah
Tidak akan menitipkan beban melampaui kekuatan penciptaan-Nya

Ikatlah iman dalam diri
Jangan hiraukan cemoohan orang yang iri
Tetaplah istiqomah di jalan-Nya
Menegakkan kebenaran hakiki
Percaya dan yakin dalam hati
Bahwa Allah Maha Mengetahui

Ponorogo-Jtm, 19 Mei 2017

Senin, 15 Mei 2017

"Gapai Impian Bersama Gemerlap Bintang"

Karya : Fitria Nur Aini

Dirimu berjuang
Belajar jauh dari orang-orang tersayang
Meninggalkan kota kelahiran
Demi masa depan
Ingin berhenti melangkah?
Karena merasa lelah?

Tengoklah, ayah dan ibu menaruh harapan besar akan keberhasilan
Kembali ke kampung halaman
Membawa sekantong benih yang kan tumbuh di taman
Menerangi kegelapan dengan apa yang telah kau genggam
Jangan hiraukan mereka yang dendam
Karena dalam jiwamu mengalir darah para pejuang

Tataplah rembulan bersama gemerlap bintang
Keduanya memberi panorama cemerlang
Meskipun angin malam menusuk tulang
Percayalah, semua terjadi agar terkenang

Tetaplah melangkah
Yakin dan jangan lupa berserah
Hanya Allah pemberi keputusan terindah

Ponorogo, 15 Mei 2017

Minggu, 14 Mei 2017

Pergilah Untuk Kembali, Membawa Koper Yang Kau Cari"

Karya : Fitria Nur Aini

Selamat berjuang
Ingat tujuan awal
Begitu banyak orang yang menantikan kesuksesan yang 'kan kau raih
Buatlah mereka menangis riang
Menatap anak semata wayang
Berjuang di negeri orang
Lalu kembali membawa koper kemenangan

Ingin pulang?
Ingatlah,perjuangan untuk mendapatkan selembar kertas untuk terbang
Siang malam begadang
Untuk mendapatkan impian terpendam
Kini waktunya kau melawan hawa nafsu
Tawakal kepada penguasa alam
Untuk sebuah ketentraman
Meraih impian
Bersama sejuta rintangan

Dan ku disini menantikan keberhasilan
Dengan rapal do'a yang ku haturkan
Yakinlah memory indah kan terkenang
Tentang rindu sebuah pertemuan

Ponorogo,14 Mei 2017 20:38

"Maaf. Aku Pamit"

Apabila nanti aku berhenti, bukan siapa yang menghentikan aku untuk selalu menantimu. Tapi waktu   yang akan menghentikan aku untu...