Apabila
nanti aku berhenti, bukan siapa yang menghentikan aku untuk selalu
menantimu. Tapi waktu yang akan
menghentikan aku untuk tetap menantimu. Apabila ada sesuatu yang mungkin
menyakitkan, harapan yang kamu nantikan, dan beribu ungkapan yang selalu kamu
dambakan. Mengertilah, semua upaya tidak lain hanya untuk menjagamu. Bukankah
menyayangi adalah menjaga bukan menghancurkan?
Sampai
detik ini mungkin kamu tidak menyadari, bahkan caraku mencintaimu selalu salah
di mata banyak orang. Tapi, mengertilah aku mempersiapkan hal indah di balik
caraku yang sadis. Setiap detik waktu yang aku lalui bersamamu terbingkai rapi
dalam lembaran kisahku. Semua rasa tersimpan di sana. Jika nanti memang aku
yang harus berhenti terlebih dahulu, maka antar aku kembali ke persinggahan
terakhirku dan jangan buru-buru meninggalkan rumahku. Tapi, temui orang tua dan
keluargaku kemudian ambillah bingkisan kisah indah yang telah aku tuliskan
untukmu.
Kamu
harus tahu bahwa aku bisa membingkai kisah seindah yang kamu baca nanti semua
karenamu. Karena kamu adalah tema terindah yang aku pilih. Karena kamu adalah
alasanku untuk menulis dan mengabadikan kenangan; tawa, bahagia, pun luka dan
sesekali tangis karenamu. Bukalah setiap lembarnya, maka kamu akan mengerti
bagaimana sakitnya dan tidak mudahnya menahan kata, rasa, perhatian, bahkan
menahan untuk tidak bertemu denganmu sekalipun rindu itu menggebu dan selalu
menjadi candu.
Ingin
sekali rasanya menikmati kisah yang telah kita lalui berdua. Lika-liku
perjuangan kita berada di dalamnya. Aku ingin melihatmu tersenyum bahagia
kemudian memelukku ketika mengetahui bagaimana usahaku untuk menjaga rasa
cinta, sayang dan rindu agar tetap terjaga dan syahdu ditemani suguhan kopi
hangat di beranda rumah sederhana kita. Kamu menikmati tulisanku dan giliran
aku menikmati senyum bahagia bahkan haru ketika melihat usaha yang telah aku
upayakan begitu besar untukmu. Namun sayang, waktu telah menghentikanku.
Kisahku hanya sampai di sini. Allah lebih dulu menjemputku. Semua bayangan
indah yang aku harapkan harus terhenti.
Dulu,
seringkali kamu salah paham akan caraku. Aku yang tidak pernah membalas semua
perhatian dan kebaikan yang kamu berikan. Tidak jarang kamu marah karena aku
tidak peduli dengan kata sayang, dan rindu. Apakah mudah untuk menahan semua
itu? Di dalamnya selalu ada tangis bahkan sesak di dada. Semua aku upayakan
demi keutuhan rasa yang akan kita nikmati berdua setelah ikrar suci itu ada.
Nikmati
setiap lembarnya. Jangan menangis, semua terjadi karena kehendak-Nya. Jangan menyesali
kepergianku. Karena aku pergi bukan karena orang lain tapi aku pergi karena
waktuku di dunia telah usai. Relakan kepergianku, jangan lupa doakan aku agar
kita bisa bersua di surganya. Karena pertemuan kita dan waktu yang membuat
kebersamaan kita berakhir, maka tiada dendam mendalam yang tertinggal. Kita
tidak bisa bersama di dunia namun kita telah abadi di lembaran aksara, yakinlah
kita pasti akan bersua kembali di surga-Nya.
Kalimat
indah yang selalu membuatku kuat menahan godaan hati yang silih berganti adalahJagalah Apa Yang Harus Dijaga Karena Yang Menjaga Hanya Untuk Yang Terjaga. Begitu
banyak hati datang silih berganti yang katanya ingin memilki, namun kalimat
itulah yang menguatkan aku. Karena, ketika aku di sini menjaga, pasti di sana
kamu pun sama halnya denganku. Kamu menjaga dan tidak akan mendua. Percayalah,
upayaku hanya untukmu. Penjagaanku karenamu: seorang.
Aku
ucapkan elamat tinggal kepadamu. Tetaplah menjaga apa yang harus dijaga karena
di sana akan ada seseorang yang menjaga segala sesuatunya untukmu. Aku pergi
bukan karena membenci. Aku berhenti menantimu bukan karena orang lain, tapi karena
waktu yang memintaku kembali kepangkuan-Nya.
Selamat
tinggal. Nikmailah setiap lembarnya meski tanpa aku di sampingmu. Namun kisahku
ada karena pertemuan kita: berdua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar