L
|
alu, mengapa tidak kita manfaatkan kesempatan
itu agar kemampuan kita semakin terasah dan berkembang? Terkadang kita hanya
fokus pada kalimat dalam Al-Quran yaitu “iqro’” bacalah,
seharusnya kita fokus juga pada kalimat “uktub” atau tulislah. Ada
pepatah yang mengatakan, ”Membaca adalah membuka jendela dunia” maka, “Menulis
adalah membuat jendela dunia” logikanya seperti itu. Masih males-malesan untuk
menulis? Inilah 3 langkah jitu supaya semangat menulis :
1. Menulis berarti menebar benih kebaikan.
Sebagian dari kita, tidak menyadari bahwa menulis
merupakan salah satu langkah kita untuk beramal. Beramal tidak hanya dengan
harta yaa, melalui tulisan kita juga bisa beramal, maka tulislah tulisan yang
bermanfaat bagi pembaca. Terkadang kita menyelipkan kalimat “Self reminder”
untuk diri kita sendiri, secara tidak langsung ada orang lain yang bergerak
hatinya untuk berubah, maka bertambah pula kebaikan kita di sisi Allah dan di
situlah kebaikan kita akan mengalir. Maka, Jadikan tulisan sebagai ladang
dakwahmu.
2. Menulis berarti melepas resah dan gelisah.
Seorang penulis itu jarang stress karena
menuangkan semuanya dalam tulisan. Percaya atau tidak, yang penting
cobalah. Setiap hari bahkan setiap jam permasalah selalu saja menghampiri yang
membuat kita resah dan semakin gelisah. “Pengennya sih cerita ke temen, tapi
takutnya nanti malah bikin masalah semakin menggunung” pernahkan, takut
cerita ke orang lain? Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Cobalah tuangkan semua
permasalahan dalam tulisan, curahkan semua yang ada, kali aja bisa dijadiin
buku, eh. Hehe. Intinya, jadikan pena dan kertas sebagai tempat melepas
lelah dan gelisah dan sebagai media untuk mengasah kemapuan kita dalam menulis.
“If you wait for inspiration to write
you are not writer, you are waiter”.
3. Menulis berarti menyentuh dunia.
Pernah mendengar kalimat singkat namun sangat terkesan
dari salah satu penulis best seller yang sudah tidak asing lagi di
telinga kita yaitu Ahmad Fuadi ”Satu peluru mampu menembus 1 kepala, namun
satu tulisan mampu menembus banyak kepala”. Dengan tulisan kita menyentuh
dunia, jika kita menulis karya fiksi maka kita mengikat hati dan
perasaan orang lain, terkadang ada rasa dan rindu yang tak sempat terucap namun
dengan menulis semua akan tercurahkan.
Jika kita menulis
karya non fiksi, maka kita akan mengikat pemikiran pembaca untuk berpikir
satu langkah lebih baik. “Penulis tidak akan lenyap dari dunia, tapi dunia
akan lenyap dengan penulis”.
Jadilah perintis perubahan dengan menulis.
Keep writing

Tidak ada komentar:
Posting Komentar